A Promised Restart

Tema Bulanan: Begin with The End in Mind

Nas Alkitab: Kejadian 1-3

Tanggal: 4 January 2026

Oleh: Tedv Sutedja

A PROMISED RESTART

Tidak terasa kita sudah meninggalkan 2025 di belakang. Dengan segala warnanya—kemenangan, pertumbuhan, dapat berkat, dapat teman baru, keluarga baru,

TETAPI juga luka, beban, pergumulan dan pertanyaan yang mungkin masih kita bawa.

Hari ini, di minggu pertama tahun baru ini, kita TIDAK sekadar membuka kalender baru.

Kita sedang MEMBUKA babak baru dalam perjalanan iman kita bersama.

A promised Restart….

Selama 4 tahun ke depan tema IFGF adalah ALIGN. Ini adalah undangan Tuhan yang sangat personal: agar kita align dengan Tuhan, menyelaraskan hidup kita dengan jalan-Nya, nilai-Nya, dan ritme yang Dia tetapkan.

Khusus di tahun 2026, fokus kita adalah: ALIGN IN PROMISE — hidup selaras dengan janji Tuhan.

Dalam Galatia 3:19 versi NLT, kita diingatkan: “Why, then, was the law given? It was given alongside the promise to show people their sins. But the law was designed to last only until the coming of the child who was promised.”

Artinya: Seluruh perjalanan iman kita menemukan arah dan maknanya hanya ketika hidup kita selaras dengan janji atau promise-nya Tuhan, bukan dengan aturan atau usaha kita sendiri.

The law menunjukkan dosa kita,

tapi The Promised menunjukkan jalan keluar-Nya.

Hukum taurat menunjukkan dosa Kita, Janji Tuhan menunjukkan jalan keluarnya.

Hari ini, kita mulai dari awal. Dari kitab pertama.

Dan kita akan menemukan bahwa respons Tuhan terhadap kegagalan kita bukanlah penghakiman tanpa harapan,

melainkan sebuah ‘Restart’ yang penuh janji. 

Dan kita belajar: BEGIN WITH THE END IN MIND.

Beberapa waktu lalu, saya mendapat priviledge untuk support seorang remaja 17 tahun. Dalam perjalanan pulang dari Palmerston North ke Fielding, ibunya bercerita kepada saya bahwa ia memiliki dua anak: yang sulung transgender dan yang bungsu autistic nonverbal.

Dengan suara bergetar ia berkata: “Keluarga besar suami saya tidak bisa menerima anak-anaknya dan mereka menyalahkan saya. Mereka bilang ini karena dosa saya. Suami saya hanya diam.”, “suami saya sering keluar negeri berbisnis dan bisa berbulan-bulan, saya hanya sendiri yang menjaga anak2 saya”.  Ibu ini terlihat begitu lelah dan matanya merah. Lebih lanjut ia berkata: “Setiap malam saya bertanya: Tuhan, apa kesalahan saya? Apa dosa saya sampai saya dihukum begini?”

Dan dengan mata yang kosong menatap jalanan, ia berkata: “Bagaimana dengan masa depan saya? Bagaimana dengan masa depan anak-anak saya? Apakah Tuhan sudah meninggalkan saya?”

Dan minggu lalu, dalam kebaktian padang, ada satu komentar yang saya catat. Ketika kita semua ditanya: “Di tahun 2025, Tuhan itu siapa bagi saudara?” Ketika Rizka ditanya, Rizka sempat diam sesaat, lalu menjawab dengan jujur dan suara perlahan: “God is great… but sometimes he is not fair.” “Tuhan itu hebat… tapi terkadang Dia tidak adil.”

Kata-kata itu membuat saya freeze sejenak. Karena itu bukan hanya curhatan Rizka saja. Itu merupakan echo dari banyak hati di ruangan ini—hati yang pernah bertanya hal yang sama, mungkin dengan kalimat yang berbeda, tapi dengan rasa yang sama: “Tuhan, di mana keadilan-Mu? Di mana kebaikan-Mu dalam pergumulan saya?”

Saudara-saudara, mungkin tidak ada dari kita yang mengalami persis seperti ibu tadi.

Tetapi seperti Rizka, seperti kita semua …

saya percaya bahwa setiap kita membawa dua “koper” memasuki 2026.

Koper pertama berwarna cerah. Isinya: berkat-berkat 2025.

Visa yang disetujui, pekerjaan baru, kelulusan, keluarga sehat, hubungan yang dipulihkan.

Tapi ada koper kedua. Lebih gelap, usang.

Isinya: pergumulan 2025 yang masih berat. Visa ditolak lagi. Pekerjaan hilang. Diagnosis dokter yang mengejutkan. Hubungan retak. Atau… dosa yang sama yang terus kita ulangi. Membuat kita bertanya: “Kapan saya benar-benar berubah?”

Dan pertanyaan yang sama bergema, bahkan sekarang lebih dalam: 

“Tuhan… kalau Engkau memang great…

kalau Engkau memang baik…

di balik semua berkat dan pergumulan ini… apa rancangan-Mu?

Di mana Engkau dalam semua ini?

Dan… adilkah Engkau?”

Saudara, saat pertanyaan-pertanyaan berat itu muncul, ke mana kita mencari jawaban?

Kita bisa scroll media sosial atau mencari kata inspirasi,

tapi itu sering kali hanya seperti plester pada luka yang dalam.

Di tengah puing-puing pertanyaan ‘mengapa’ itu,

mari kita kembali ke satu tempat di mana identitas kita tidak bisa digugat.

​Jawaban Tuhan mungkin tidak datang dari seminar,

tapi ia datang dari kitab pertama—dari pasal-pasal yang mungkin sudah kita baca puluhan kali, tapi hari ini Roh Kudus ingin menyegarkannya.

Kita akan melihat di Kejadian 1-3

bagaimana Tuhan merespons kegagalan kita bukan dengan penghakiman, tapi dengan sebuah janji.

Kejadian 1:26:

‘Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…”‘

Kejadian 1:27:

‘Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.’”

Kejadian 1:31:

‘Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.

Saudara-saudara, izinkan saya membagikan sebuah refleksi yang lebih personal tentang rahasia besar dalam ayat-ayat ini.

Mari kita bayangkan ada sebuah “ruang meeting” di surga sebelum kita mengembuskan napas pertama di bumi, sebelum kita lahir.

Saat Tuhan menciptakan terang, Dia hanya berfirman, “Jadilah!” dan cahaya pun meledak dalam kegelapan.

Saat Dia menciptakan cakrawala dan samudera, Dia cukup memerintah, dan alam semesta tunduk.

Tapi untuk manusia …… “Baiklah Kita menjadikan manusia…”

Baiklah kita… Ada sebuah “konsultasi” ilahi. Ada perbincangan khusus di dalam diri Sang Pencipta.

Ini adalah rahasia pertama: Kita bukanlah sebuah kebetulan biologis atau hasil dari lini produksi massal. Kita adalah hasil dari pemikiran mendalam Tuhan. Jika dunia diciptakan dengan kata-kata, saudara dan saya diciptakan dengan “hati” dan rencana yang matang.

Apa artinya “Gambar Allah”? Ini bukan tentang bentuk fisik, melainkan tentang identitas sejati.

Di dunia yang sering menilai kita berdasarkan saldo bank, pencapaian karier, atau status visa, atau apa yang kita pakai, yang terlihat dari luar, tetapi ayat ini membisikkan kebenaran yang membebaskan: Nilai kita bersifat intrinsik. Instrinsik artinya nilai sebenarnya, nilai yang sesungguhnya tanpa di poles.

Bayangkan sebuah koin NZD 2 yang kotor dan tertimbun tanah. Nilainya tidak berkurang sedikit pun karena kotoran itu, sebab di dalamnya terukir gambar Quen Elizabeth.

Begitu juga dengan kita. Saat kita merasa hancur, saat kegagalan membuat kita merasa tidak berharga, ingatlah rahasia kedua: ada “Gambar Allah” yang terpatri dalam jiwa saudara dan saya.

Dan ada detail yang sering kita lupakan: Manusia diciptakan di akhir hari keenam. Mengapa? Ini adalah metafora yang luar biasa. Tuhan tidak menciptakan manusia di hari pertama untuk membantu-Nya membangun langit.

Rahasia ketiga, Tuhan ingin kita tahu bahwa saat kita membuka mata untuk pertama kalinya, semuanya sudah selesai. Dunia sudah siap. Kita masuk bukan sebagai kuli bangunan, melainkan sebagai tamu kehormatan di istana yang sudah jadi.

“Sebelum kita berbuat apa-apa, sebelum kita membuktikan apa pun, Tuhan sudah melihat kita dan berkata: ‘Sungguh Amat Baik’.”

Inilah IDENTITAS KITA YANG SEJATI:

Bukan dari apa yang kita lakukan,

tapi dari siapa kita …. di mata Sang Pencipta.

Sebelum Sendi berbuat apa-apa, Sebelum Sendi membuktikan apapun, Tuhan sudah melihat Sendi dan berkata ‘Sungguh Amat Baik’

Sebelum Rizka berbuat apa-apa, Tuhan sudah melihat dan berkata ‘Sungguh Amat Baik’

Sebelum kita semua disini berbuat apa-apa, saat kita brojol dari perut mama kita dan menangis pertama kali, Tuhan melihat dan berkata ‘Sungguh Amat Baik’

Saudara…., saat ini identitas kita sering direduksi: menjadi passpor kita, status visa kita, status pekerjaan kita. Atau identitas kita sama seperti di sosial media: flexing jalan-jalan, mobil mewah, makan-makan, atau bayar joki Strava agar terkesan fit.

Tapi hari ini, Tuhan ingatkan: identitas sejatimu bukan dari semua itu.

Identitas sejatimu adalah bahwa saudara dan saya adalah GAMBAR ALLAH.

Beberapa tahun lalu, ada seorang anak autistik memperkenalkan diri kepada saya: “Tedy, I’m Matthew, and I’m with autistic.” Ia mengidentik-kan dirinya sebagai autistic. Setelah ngobrol2 ngarol ngidul, Lalu dengan mata yang jernih, ia bertanya: “Why it happened to me, Tedy? Mengapa ini terjadi ke saya kenapa tidak ke saudara saya, atau teman saya.”

Pertanyaan itu membuat saya tersedak. Dan saya hanya bisa menjawab: “I don’t know why, Matthew. Tapi yang saya tahu bahwa Tuhan punya rencana yang Indah buat kamu. Hari ini mungkin kita tidak mengertitetapi percayalah akan janji Tuhan.”

Kita juga bertanya: ‘Kenapa visa saya ditolak? Kenapa keluarga saya sakit? Kenapa orang saya cintai di panggil Tuhan? Kenapa impian saya belum tergenapi?’

Tuhan tidak selalu beri jawaban yang kita mau,

tapi Dia selalu beri JANJI.

Namun, inilah tragedinya: dengan identitas yang begitu mulia, manusia memilih jalan lain. Kita masuk ke pasal 3. Kita ingin menjadi ‘seperti Allah’—tapi dengan caranya sendiri, bukan dengan cara-Nya.

Kejadian 3:6-7 mencatat Kejatuhan. Rasa malu. Menutup rasa malu-nya.

Apa yang terjadi ketika mata mereka terbuka?

Mereka melihat “ketelanjangan” mereka. Tapi ini lebih dari sekadar tubuh yang terbuka. 

Ini membuka kesadaran mereka akan sebuah kekurangan yang mendalam. Tiba-tiba, mereka merasa “tidak cukup”. Dan reaksi pertama mereka? Menyemat daun pohon ara.

Saudara, daun ara itu adalah upaya pertama manusia membangun “personal branding”. Itu adalah usaha kita untuk menutupi kekurangan kita dengan sesuatu—apa punagar dunia tidak melihat kerapuhan kita. Kita tidak genuine, tidak authentic, kita hidup dengan berpura-pura.

Dan kita mewarisi pola yang sama. Di tahun 2025, “daun ara” kita berbentuk berbeda:

  • Saat visa ditolak, kita merasa ‘telanjang’—seolah nilai diri kita ditentukan oleh stempel di paspor.
  • Saat pekerjaan hilang, kita ‘bersembunyi’—malu bertemu teman, sibuk membuat alasan.
  • Saat hubungan retak, kita ‘menyalahkan‘—lebih mudah mencari kambing hitam daripada mengakui kegagalan kita sendiri.

Kita SEMUA adalah Adam dan Hawa modern, BERSEMBUNYI di semak-semak kecemasan kita masing-masing.

Tapi di sinilah rahasianya. Perhatikan baik-baik: Tuhan tidak datang dengan teriakan, “Mengapa kamu melakukannya?!”

Dia datang dengan sebuah pertanyaan yang jauh lebih dalam: “Di mana engkau?”

Itu adalah pertanyaan RELATIONSHIP, bukan pertanyaan INTEROGASI.

  • “Di mana engkau?” berarti: “Aku merindukanmu.”
  • “Di mana engkau?” berarti: “Jangan biarkan rasa malumu memisahkan kita.”
  • “Di mana engkau?” berarti: “Aku tahu apa yang terjadi, TAPI  Aku LEBIH peduli pada keberadaanmu DARIPADA kesalahanmu.”

Dia tidak sedang memburu seorang KRIMINAL. Dia sedang mencari ANAK-Nya yang ketakutan.

Nah, sekarang kita sampai pada bagian yang mengubah segalanya. Kejadian 3:14-15.

Setelah konsekuensi dosa dijelaskan… datanglah ayat 15. Dan ayat ini BUKAN tentang hukuman. Ini tentang JANJI. A promised restart ‘Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu…’

Ini adalah JANJI PERTAMA DALAM ALKITAB.

Dia TIDAK berkata: ‘Kalian gagal total. kalian Game Over. kalian Finished’

Tapi Dia berkata: ‘Aku akan beri kamu sebuah RESTART. Tapi restart kali ini tidak akan berjalan dengan kekuatanmu sendiri. Restart ini akan KUKENDALIKAN dengan sebuah JANJI—Janji tentang Keturunan yang akan mengalahkan kejahatan. Ini adalah A PROMISED RESTART.’ sebuah awal yang baru yang bukan didasari oleh kekuatan Adam untuk berubah, tapi didasari oleh janji Tuhan yang akan mengalahkan si ular.

Di tengah kegagalan terbesar manusia… Tuhan justru membuka PINTU PENGHARAPAN.

Ada seorang kakek 70 tahun yang saya dampingi di rumah sakit. Karena pengobatan kanker, ia mengalami early demensia. Seperti biasa, setiap memulai shift, saya memperkenalkan diri: ‘I’m Tedy, I’m your support staff tonight.’ Lalu saya bertanya, ‘What’s your name?’ Meski sebenarnya saya sudah tahu namanya dari catatan medis, saya selalu menanyakan ini. Tetapi malam itu, ketika saya tanyakan namanya, ia terdiam dan berkata dengan putus asa: “I can’t remember. I don’t know who am I….” Dia sudah lupa namanya sendiri.

Lalu saya pegang tangannya: ‘Bapak, mungkin bapak lupa, tapi Tuhan tidak pernah lupa nama-mu. Dia bahkan tahu jumlah rambut di kepala-mu.’

Di tengah kegagalan 2025, kita mungkin lupa identitas kita. Tapi Tuhan tidak pernah lupa. Dia punya rancangan khusus. Dan rancangan itu dimulai dengan A PROMISED RESTART.

Jadi, mungkin kita bertanya: ‘Seperti apa wajah Restart untuk saya hari ini?’

Misalnya, kalau kamu sedang bergumul dengan visa, restart-mu berarti belajar mempercayai bahwa janji Tuhan tentang waktu-Nya yang tepat lebih berkuasa daripada keputusan imigrasi.

Atau kalau kamu sedang mencari pekerjaan, restart-mu adalah menemukan fondasi baru: bahwa identitasmu sebagai Gambar Allah lebih penting daripada job title-mu. Kamu bukan sekadar pencari kerja, tapi duta Kerajaan Allah di mana pun engkau ditempatkan.

Bagi kita yang rindu keluarga di Indonesia—terutama yang datang dari budaya dengan ikatan keluarga yang sangat kuat, restart-mu adalah dengan aktif menerima dan membangun ‘keluarga rohani’ di Palmy ini. 

Sekarang saudara lihat kanan-kiri-depan-belakang saudara, mereka adalah keluargamu di sini, terimalah mereka sebagai anugerah Tuhan yang nyata untuk menopangmu selama musim ‘sementara’ di Palmy ini.

Ingat, ikatan terdalam kita bukan hanya darah atau budaya, tetapi identitas kita bersama sebagai Gambar Allah.

Dan kalau ada yang merasa gagal secara moral, ingat ini: janji pertama Tuhan datang justru setelah dosa pertama. Restart untukmu sudah dijamin oleh darah Yesus. 

Dia pakai orang gagal untuk men-ceritakan pemulihan-Nya.

Nah, supaya ini nggak cuma jadi konsep, mari kita praktekkan dengan tiga hal sederhana di minggu pertama tahun ini.

Pertama, mari kita benar-benar membuka dua ‘koper’ yang kita bawa.

Malam ini, cari 15 menit hening. Kita menghadap Tuhan dengan jujur dalam doa. Buka koper berkatmu—ucapkan syukur spesifik untuk hal-hal baik di 2025, sekecil apa pun.

Lalu, buka juga koper pergumulanmu—akui dengan suara lirih di hadapan-Nya beban apa yang masih berat, dan serahkanlah.

Kedua, mari kita mengambil satu janji Tuhan untuk dipegang sepanjang tahun.

Pilih satu ayat firman yang menjadi ‘jangkar’, yang menjadi anchor’ untuk imanmu di 2026. Tulis di kertas, tempel di kulkas, atau jadikan wallpaper HP-mu, agar setiap hari mengingatkanmu.

Untuk saya pribadi, di awal tahun ini, JANJI TUHAN yang saya pegang berasal dari Filipi 1:6. Bunyinya:

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di dalam kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”

Mengapa ayat ini? Karena Ia mengingatkan saya bahwa ‘Restart’ ini BUKAN inisiatif saya

Pekerjaan yang baik—pemulihan identitas sebagai Gambar Allah, pengharapan akan janji-Nya—sudah Dia mulai.

Dan ketika Ia mulai maka  Dia yang setia akan menyelesaikannya.

Ini BUKAN tentang saya mengumpulkan tenaga untuk restart sendiri,

TETAPI tentang saya berjalan dalam restart yang sudah Dia janjikan dan kerjakan.

Ketiga, mari kita belajar menghidupi setiap hari dengan kesadaran baru.

Izinkan saya berbagi hal yang sangat pribadi.

Di tanggal 27 Desember lalu, ketika saya sedang merenungkan Mazmur 90. Daud berdoa, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Lalu di ayat 10, ia merenungkan: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun… sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”

Tahun ini saya genap 58 tahun. Jika mengacu pada Mazmur itu, berarti mungkin tersisa sekitar 12 tahun—atau tepatnya, 4385 hari—dari usia 70 tahun. Perhitungan itu menggetarkan hati saya.

Mungkin ada yang berpikir, “Ah, saya belum setua itu… Saya tidak mau memikirkan hal yang berat seperti itu.”

Tapi hidup manusia, siapa yang tahu?

Minggu lalu, saya kehilangan seorang teman di tempat kerja. Usianya baru 28 tahun. Tiba-tiba saja, ia meninggal dunia. Belum reda duka itu, beberapa hari kemudian, anak dari seorang teman kerja saya yang lain juga meninggal dunia. Usianya 38 tahun.

Dua peristiwa itu—sisa 4385 hari saya, dan usia 28 serta 38 tahun yang terpotong tiba-tiba—mengguncang saya dengan sebuah kebenaran yang sama: 

Mazmur 90 ini bukan tentang memprediksi berapa tahun lagi kita hidup, TETAPI tentang bagaimana kita menghidupi setiap hari yang Tuhan percayakan—entah itu 12 tahun lagi, 50 tahun lagi, atau besok.

Oleh karena itu, malam ITU juga, saya mendownload sebuah aplikasi jurnal di HP saya dan memulai gratitude journal. 

Saya berkomitmen: Setiap hari, hanya satu kalimat pendek. Satu kalimat yang menjawab pertanyaan: “Kebaikan Tuhan apa yang nyata saya alami hari ini?” 

Saya juga menambahkan countdown sisa hari saya: 4385, 4384 dan seterusnya.

Terkadang, itu sesuatu yang sangat sederhana. Misalnya, saya pernah menulis:

“Bersyukur karena Tante Monic yang setiap pulang kerja selalu cerita tentang harinya.“

 Bagi saya, mendengarkan ceritanya itu seperti mendengarkan Vicki memimpin nyanyikan worship songs—membawa kedamaian.”

Mengapa hanya satu kalimat?

Dengan satu kalimat itu, saya seperti di-ajar untuk “menghitung hari” dengan cara yang bijak. 

Saya dipaksa berhenti, melihat kembali hari itu, dan berkata: ‘Di sini, Tuhan baik kepadaku.’

Setiap pagi saat saya membuka mata, saya sadar bahwa Tuhan memberikan satu hari lagi untuk saya, bukan karena saya hebat tapi karena Dia MASIH MEMEGANG janjiNya.

Setiap pagi adalah a promised restart. Kesempatan baru untuk hidup selaras dengan-Nya, apapun yang sedang terjadi.

Saudara bisa mencobanya minggu ini. Tulis di notes HP-mu, atau di buku. Tidak perlu panjang. Yang penting tulus.

Bahkan jika hari ini satu-satunya hal yang bisa anda syukuri adalah anda masih bernapas, tuliskan itu. Karena napas itu adalah tanda Tuhan belum selesai dengan anda.

Mau mencoba? Amin.

Comments

Leave a comment