Selamat Dari Badai Tapi Belum Tentunya Selamat Dari Ketakutan

Selamat dari Badai, Tapi Belum Tentu Selamat dari Ketakutan: Menerima Pemulihan Allah di Tanah yang Masih Bekas Banjir

Tema Bulanan: God Who Restores (Allah yang Memulihkan)

Nas Alkitab: Kejadian 8:15–20 & 9:12–16

Tanggal: 8 Februari 2026

Oleh: Tedv Sutedja

Pembacaan Alkitab

Kejadian 8:15-20

Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: ”Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.” Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.

Kejadian 9:12-16

Dan Allah berfirman: ”Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.”

Saudara-saudara, mari kita refleksi ke dalam diri kita masing-masing: hidup yang kita jalani sekarang sebenarnya bukan begini rancangan awalnya. Sejak manusia jatuh dalam dosa, dunia bukan lagi menjadi rumah yang nyaman, melainkan labirin ketidakpastian.

Bayangkan: manusia yang awalnya diciptakan Tuhan dengan martabat untuk menikmati dan mengelola bumi dalam sukacita, namun setelah dosa masuk, ‘bekerja’ yang semula adalah panggilan mulia, berubah menjadi beban dan alat sekadar untuk bertahan hidup. Kini, sekeras apa pun kita memeras keringat, rasa aman dan keberhasilan tetap tidak pernah bisa kita genggam dengan pasti.

Sejak hari itu, ketakutan akan masa depan bukan lagi sekadar tamu yang lewat, melainkan penghuni tetap di dalam hati kita semua.

Saya lahir dan dibesarkan di Jakarta. Yang saya ingat dari masa kecil adalah kebahagiaan. Saya sangat disayang keluarga. Namun, kehidupan kami jauh dari kata cukup. Uang sekolah sering telat bayar. Makan satu telur harus berbagi dengan saudara. Rumah kebanjiran. Kondisi tersebut sangat membekas dalam hati saya. Yang membuat kekhawatiran akan masa depan menjadi bagian dari hidup saya. Ketika saya sudah bekerja dan mendapat posisi yang bagus, tapi kecemasan itu tidak hilang – malah bertambah.

Ditambah trauma krisis ekonomi, kerusuhan, plus kepergian saudara laki-laki dan mama saya tercinta. Saya khawatir akan pendidikan dua anak saya. Ketakutan karena biaya pengobatan yang melambung, dulu belum ada yang namanya BPJS. Ketika mama saya sakit, karena ia sudah 80 tahun, dokter tidak mengizinkan untuk kemotherapy, tetapi sebagai penggantinya ia harus mengkonsumsi obat-obatan, dan ada 1 PIL yang harus dikonsumsi setiap hari yang harga 1 PIL tersebut 1 juta rupiah. Saudara bayangkan Mama saya mengkonsumsi-nya selama 3 tahun, tidak pernah putus 1 hari-pun.

Saya berusaha kerja keras, tapi serasa tidak pernah cukup.

Dan ironisnya – saya bekerja di dunia asuransi. Tempat di mana saya belajar memetakan risiko, me-minimal-kan resiko. Saya mendapatkan gelar profesi Saya sebagai Chartered Life Underwriter, saya jadi ahli management risiko… tapi justru semakin anxious. Setiap hari diingatkan: hidup ini penuh ketidakpastian.

Setelah mama saya di panggil Tuhan, kami sekeluarga memutuskan untuk melakukan restart dan pindah ke New Zealand. Kami berjuang lagi dari nol selama 2 tahun hingga akhirnya menetap di Palmerston North. Tapi tahukah Anda? Saya belum bebas dari rasa was-was. Visa aman, kerja ada, rumah ada – tapi hati masih bertanya: “Bagaimana kalau…?” “Jangan-jangan…”. Mungkin sebagian dari Anda merasakan hal yang sama: sudah dapat beasiswa atau pekerjaan, tapi tetap stres dan cemas akan hari esok.

Inilah yang mungkin dirasakan Nuh. Selama 120 tahun ia membangun bahtera di tengah ejekan, selama 120 tahun ia tidak melihat tanda-tanda turunnya hujan.

Dan ketika air bah itu datang, ia bukan hanya menghadapi badai; ia menjadi saksi mata kehancuran total dari seluruh peradaban dan dunia yang ia kenal. Ia dan keluarganya selamat, tetapi mereka adalah satu-satunya manusia yang tersisa di planet yang sunyi sepi. Ditambah, mereka terkurung hampir satu tahun di dalam bahtera yang gelap dan terombang-ambing. Hidupnya berjalan dalam ruang yang sempit, tanpa kepastian, tanpa pemandangan, tanpa tahu kapan semua ini akan berakhir. Kapan kaki ini bisa menginjak tanah yang kokoh?

Kita telah saksikan bencana banjir di Aceh dan Sumatera Utara beberapa bulan yang lalu, setelah banjir surut kondisinya sudah berubah, sisah lumpur setinggi rumah menutup daerah itu. Begitu juga dengan Nuh, saat ia akhirnya melangkah keluar dari bahtera, dunianya sudah hancur total. Dia tidak mengenal daerahnya lagi. Yang ia dapatkan bukan tanah subur yang siap huni, melainkan tanah becek, bau lumpur, dan lembah ketidakpastian.

Hari ini, kita bertemu di Kejadian 8–9. Dengan pertanyaannya: Bagaimana kita menerima pemulihan Allah, ketika hati kita masih basah oleh ketakutan. Bagaimana kita bisa melangkah saat masa depan masih terasa seperti tanah becek?

Mari kita masuk ke dalam hati Nuh saat ia pertama kali menginjakkan kaki keluar dari bahtera.

I. FASE 1: KELUAR DARI BAHTERA – MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN

Nuh melangkah keluar dari bahtera murni karena ketaatan mutlak pada firman Allah yang berkata, “Keluarlah dari bahtera itu…”. Saudara mari kita bayangkan kondisi batinnya; setelah lebih dari satu tahun terkurung dalam kegelapan bahtera yang terombang-ambing tanpa kemudi manusia, Nuh mungkin merasa seolah-olah telah “terkubur hidup-hidup” di tengah kengerian kehancuran global yang baru saja ia saksikan. Meskipun tubuhnya sudah selamat secara fisik, jiwanya mungkin masih terjebak dalam Survival Mode—sebuah kondisi batin yang terus-menerus waspada dan trauma, seakan-akan badai berikutnya bisa datang kapan saja untuk merenggut segalanya lagi.

Ketakutan menghadapi realitas di luar “zona aman” ini sangat nyata. Dua minggu ada seorang pasien berusia 65 tahun yang dirawat selama seminggu di Ward 21. Selama di rumah sakit, proses pemulihan sangat cepat dan ia sudah merasa aman (safe). Minggu kemarin, pagi hari ia diizinkan pulang, namun siang harinya ia justru harus masuk ke ED karena meminum 2 liter racun rumput (weed killer). Mengapa? Karena ia melihat kenyataan di luar sana ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya; ia tidak sanggup menghadapi “tanah becek” kehidupan di luar dinding perlindungan rumah sakit.

Sebagai pendatang di Palmy, banyak dari kita— yang sedang dalam transisi visa—kerap merasakan posisi yang sama seperti Nuh. Kita sudah berada di New Zealand, namun secara mental kita masih sering ‘terkurung’ di dalam bahtera kecemasan, membawa sisa air bah di hati yang berisi trauma kegagalan masa lalu atau ketakutan akan hari esok yang masih terasa becek.

Bagi saya, “sisa air bah” itu berbentuk penyesalan mendalam. Di tahun 2023, keponakan saya di Jakarta mengirim pesan happy birthday kepada saya dengan mengatakan ia melihat saya sebagai figur papanya karena ayah kandungnya sudah tiada. Ia merindukan kami. Pesan itu membuat saya sedih karena sebelum berangkat ke NZ, saya tidak mengajaknya bicara secara personal untuk memberitahunya, padahal ia masih kelas 3 SMP. Seketika itu juga, saya membalas pesannya dan memohon maaf kepadanya lewat pesan pribadi tersebut.

Seringkali, meskipun kondisi luar kita sudah membaik, kita masih hidup seperti korban gempa yang takut masuk ke bangunan baru karena trauma guncangan.

Di sinilah kita perlu memegang janji dalam Mazmur 34:5 “Aku telah mencari Tuhan , lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.”, bahwa saat kita mencari Tuhan, Ia menjawab dan melepaskan kita dari segala kegentaran kita. Tuhan memanggil kita untuk berpindah dari sekadar bertahan hidup / survival mode ke dalam Restoration Mode—sebuah mode pemulihan di mana kita berani melangkah keluar menghadapi ketidakpastian tersebut.

Pemulihan Allah sering kali dimulai justru saat tanah kehidupan kita masih terasa becek dan bau lumpur kegagalan masih tercium kuat.

Seperti Nuh, kita diajak untuk berani melepaskan kendali atas ketakutan kita dan percaya bahwa Tuhan yang telah menutup pintu bahtera untuk melindungi kita, adalah Tuhan yang sama yang sekarang membukanya agar kita bisa mulai menanam kembali harapan di tanah yang baru ini.

Namun, bagaimana kita mulai menanam? Di mana kita meletakkan benih pertama? Nuh memberikan contoh yang mengejutkan. Insting pertama kita saat berdiri di tanah becek adalah segera membangun ‘rumah’—mencari keamanan jasmani. Tetapi Nuh melakukan sesuatu yang melawan logika itu. Tindakan pertamanya bukan untuk melindungi kepalanya, tetapi untuk menyelaraskan hatinya.

II. FASE 2: MEMBANGUN MEZBAH – A LIFE RESET (MENYELARASKAN HATI)

Tindakan pertama yang dilakukan Nuh setelah menapak di tanah baru bukanlah membangun rumah yang kokoh untuk keluarganya, melainkan mendirikan mezbah bagi TUHAN.

Inilah yang disebut sebagai “A Life Reset”, sebuah momen penyetelan ulang hidup di bawah prinsip Altar Before Achievement—mezbah sebelum pencapaian. Nuh menyadari bahwa setelah badai yang menghancurkan segalanya, ia harus menyelaraskan kembali ritme hidupnya dengan kedaulatan Allah.

Berdasarkan pengalaman saya selama 20 tahun di dunia asuransi, saya diajarkan untuk memetakan risiko agar hidup terasa aman. Namun, dari Nuh kita belajar bahwa pemulihan sejati dimulai dengan penyembahan, bukan produktivitas.

Nuh tidak menunggu sampai hidupnya stabil atau tanahnya benar-benar kering untuk menyembah; ia membangun mezbah di atas tanah yang masih bekas banjir.

Di tengah komunitas diaspora kita, godaan terbesar adalah membangun “rumah” karier dan tabungan terlebih dahulu sebelum mezbah. Kita sering terjebak dalam rutinitas untuk update CV, buat cover letter yang sempurna atau mengejar PR. Namun kita lupa bahwa membangun hidup tanpa mezbah penyembahan adalah seperti membangun rumah tanpa fondasi. Tanpa mezbah batiniah, kesuksesan kecil kita justru bisa menjadi “warisan kosong” yang membuat hati tetap merasa hampa.

Oleh karena itu, A Life Reset adalah undangan ketaatan untuk menempatkan Allah sebagai pusat dari segala “proyek” hidup kita di Palmy.

Saudara, hidup Nuh, hidup saudara dan saya selalu berada di bawah pengawasan kasih Allah. Mezbah itu adalah pernyataan bahwa kita memilih untuk selaras dengan janji-Nya hari ini, Mezbah itu adalah pengakuan kita bahwa identitas kita sebagai Gambar Allah jauh lebih berharga daripada semua gelar akademik atau stempel visa yang kita kejar.

Dan inilah keindahannya: ketika kita berani meletakkan hidup di atas mezbah penyembahan, Tuhan tidak membiarkan kita sendirian. Dia merespons. Bagi Nuh, respons itu tidak datang dalam bentuk buku manual hidup baru, tetapi dalam sebuah tanda di langit—sebuah tanda yang mengubah segalanya.

III. FASE 3: MELIHAT PELANGI – CARA TUHAN MENGOBATI LUKA HATI

Setelah mezbah penyembahan didirikan di atas tanah yang masih berbekas banjir, langit yang tadinya menjadi sumber trauma bagi Nuh kini menampilkan sesuatu yang benar-benar baru.

Di tengah awan yang masih menggantung—awan gelap yang biasanya memicu rasa takut akan air bah susulan—Allah justru membentangkan Meterai Perjanjian-Nya dalam bentuk pelangi.

Pelangi ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan sebuah Busur Kedamaian yang unik. Perhatikan bahwa busur itu mengarah ke atas, ke arah takhta Allah, Tanpa anak panah atau Tanpa tali busur, yang secara visual menyatakan bahwa Allah tidak lagi datang dengan senjata penghakiman, melainkan dengan tangan yang terulur untuk menghibur jiwa yang lelah.

Dalam pemulihan ini, Tuhan tidak menghapus awan gelap dari cakrawala hidup Nuh, karena awan adalah bagian dari realitas dunia yang telah jatuh. Namun, melalui pantulan sinar matahari—yang secara teologis melambangkan kehadiran Kristus sebagai Surya Kebenaran—setiap awan gelap itu kini diubah menjadi panggung bagi kemuliaan janji-Nya.

Inilah cara Allah mengobati luka hati kita: Ia tidak menghapus sejarah pahit atau mengusir awan kegelapan dari hidup kita, namun Ia mengubah maknanya. Awan gelap yang dulu adalah pertanda penghakiman, kini menjadi kanvas bagi tanda kasih-Nya. Pemicu rasa takut diubah menjadi pengingat akan janji setia-Nya.

Pemulihan melalui Meterai Perjanjian ini bukan hanya milik Nuh, tetapi juga bisa kita alami hari ini.

Saya teringat pada kisah Thomas Chisholm, seorang pendeta yang harus melepaskan pelayanannya karena kesehatan yang memburuk, dan untuk menyambung hidup, ia bekerja sebagai agen asuransi jiwa selama bertahun-tahun. Di tengah rutinitas pekerjaan asuransi yang setiap hari berhadapan dengan risiko dan ketidakpastian, serta kondisi fisiknya yang sering sakit, Chisholm tidak membiarkan batinnya tenggelam dalam kepahitan. Pada usia 57 tahun, ia menoleh ke belakang dan menyadari bahwa meskipun hidupnya “biasa saja” dan penuh tantangan, kesetiaan Tuhan tidak pernah absen satu hari pun. Ia kemudian menulis puisi yang kita kenal sebagai lagu “Great Is Thy Faithfulness”, dengan lirik:

Great is Thy faithfulness
Morning by morning new mercies I see
All I have needed Thy hand hath provided
Great is Thy faithfulness, Lord, unto me.

Chisholm mengajarkan kita bahwa pelangi janji Tuhan tidak selalu berupa mukjizat besar yang spektakuler; sering kali, pelangi itu adalah rahmat yang baru setiap pagi—kekuatan yang cukup untuk menjalani hari ini meskipun masa depan belum terlihat kering sepenuhnya.

Kini, setiap kali kita melihat “awan” ketidakpastian—entah itu soal kesehatan, keuangan, visa, pekerjaan, atau studi—mari belajar melihat melampaui kegelapan tersebut. Kita memiliki jangkar janji yang tak terbatalkan, yang menjamin bahwa masa depan kita berada di bawah perlindungan Sang Arsitek Keselamatan yang setia. Pemulihan Allah sedang bekerja, memeteraikan janji-Nya di atas sisa-sisa air bah dalam hidup kita.

Kesimpulan: Tiga Keputusan untuk Pemulihan

Saudara-saudara yang terkasih, kisah Nuh yang kita renungkan hari ini bukanlah sekadar cerita tentang selamat dari bencana besar, melainkan sebuah peta jalan tentang bagaimana Allah memulihkan (restorasi) hidup yang telah hancur oleh badai ketidakpastian.

Kita telah melihat bahwa pemulihan sejati dimulai saat kita berani melangkah keluar dari “Survival Mode” menuju “Restoration Mode”. Nuh mengajarkan kita bahwa meskipun kita masih berdiri di atas “tanah yang becek”—di tengah ketidakpastian visa, studi, atau pekerjaan di perantauan—kita tidak lagi dikendalikan oleh ketakutan masa lalu karena kita taat pada suara Sang Arsitek Keselamatan.

Pelajaran terpenting bagi kita di Palmerston North adalah prinsip “Altar Before Achievement” (Mezbah sebelum Pencapaian). Sebelum Nuh membangun atap untuk perlindungan fisiknya, ia terlebih dahulu membangun mezbah untuk menyelaraskan hatinya kembali dengan kedaulatan Allah. Ingatlah bahwa identitas kita sebagai Gambar Allah jauh lebih berharga daripada status duniawi apa pun yang sedang kita kejar. Tanpa mezbah batiniah, segala pencapaian kita di tanah baru ini hanyalah akan menjadi warisan yang kosong.

Akhirnya, Tuhan menutup perjalanan restorasi ini dengan memberikan Meterai Perjanjian berupa pelangi di awan. Tuhan tidak menjanjikan bahwa awan gelap akan hilang selamanya dari langit hidup kita, namun Ia menjanjikan bahwa melalui Kristus—Sang Surya Kebenaran—setiap awan gelap itu kini menjadi panggung bagi kesetiaan-Nya. Busur Kedamaian yang mengarah ke atas adalah jaminan bahwa Allah tidak lagi datang untuk menghakimi, melainkan untuk mendekap dan memberikan pengharapan yang mulia.

Ini adalah kebenaran yang luar biasa. Tuhan tidak menghakimi kita yang berdiri di tanah becek ini. Dia mendekap kita. Dia memberikan pengharapan.

Saudara-saudara yang dikasihi…, kita punya pilihan.

Kita bisa pulang dan membiarkan ketakutan itu kembali menjadi penghuni tetap di hati kita. Atau… kita bisa mengambil tiga keputusan sederhana sebagai respons atas kasih Tuhan yang baru saja kita nyanyikan:

  1. Keputusan untuk KELUAR. Ketika suara itu berbisik, ‘Bagaimana kalau… Jangan-jangan…’ — kita akan berhenti, dan dengan sengaja berkata: ‘Tuhan, aku keluar dari ruang ketakutan ini. Aku memilih untuk berdiri di tanah becek ini bersama-Mu.’
  2. Keputusan untuk MEMBANGUN MEZBAH. Sebelum kita membangun apa pun — sebelum CV, sebelum rencana, sebelum kecemasan akan masa depan — kita akan meletakkan hati kita di hadapan-Nya lebih dulu. ‘Altar sebelum Achievement.’ Itu akan menjadi motto hidup kita minggu ini.
  3. Keputusan untuk MELIHAT PELANGI. Kita akan melatih mata hati kita. Saat awan gelap datang, kita tidak akan langsung panik. Kita akan bertanya: ‘Tuhan, di mana tanda kesetiaan-Mu dalam situasi ini?’ Dan kita akan mencarinya — seperti pemburu yang percaya bahwa pelangi itu selalu ada.

Ini bukan tentang daftar tugas. Ini tentang mengubah arah hati. Newsletter kita nanti akan memberikan beberapa ide praktis, tetapi yang terpenting hari ini adalah komitmen batin ini.

Apakah kita mau? Apakah kita mau menjadi orang-orang yang tidak hanya selamat dari badai, tetapi benar-benar hidup di tanah baru — becek tapi penuh janji?

Mari kita bertekad. Mari kita mengangguk dalam hati. Mari kita berkata ‘ya’ kepada undangan pemulihan-Nya.

Tuhan yang setia ini, yang memberi kita pelangi, akan memberikan kekuatan untuk setiap langkah iman yang kita ambil.

Besar Setia-Mu, Allah Bapaku. Amin.


Posted

in

by

Comments

Leave a comment