“DI ANTARA BATA BAKAR, DI MANAKAH PELANGIMU?”
Kejadian 11:3-4
Oleh: Tedy Sutedja
Saudara, hari ini kita akan membahas sebuah kisah yang sangat ikonik. Kisah Menara Babel. Kita sudah mendengarnya sejak Sekolah Minggu. Kita tahu akhir ceritanya: Tuhan mengacaukan bahasa, mereka terserak ke seluruh bumi.
Tapi mari kita berhenti sejenak. Mari kita buka Kejadian 11 ayat 3-4.
saya bacakan mulai dari ayat yang pertama:
“1Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 2Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. 3Mereka berkata seorang kepada yang lain: ”Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan tér gala-gala sebagai tanah liat. 4Juga kata mereka: ”Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”” Kejadian 11:1-4 TB
Saya ingin kita melihat detail teknis yang luar biasa penting di ayat 3. Di situ tertulis: “Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.’”
Coba perhatikan. Sepanjang Perjanjian Lama, ketika manusia membangun mezbah bagi Tuhan—entah Abraham, Ishak, atau Yakub—mereka selalu menggunakan batu alam. Batu yang tidak dipahat, tidak direkayasa. Mereka mengambil apa yang Tuhan sediakan di alam, menumpuknya, dan berkata, “Tuhan, ini persembahan kami.”
Tapi di sini, di tanah Sinear, ada revolusi industri kecil-kecilan. “Marilah kita membuat batu bata.” Kenapa susah-susah membuat batu bata? Karena dengan batu bata, manusia bisa menentukan bentuknya sendiri. Tidak perlu menunggu Tuhan menyediakan batu alam. Mereka bisa mencetak, membakar, dan mengeraskan bata sesuai keinginan mereka.
Batu bata adalah simbol rekayasa. Ini adalah simbol dari kemandirian manusia yang mengesampingkan kedaulatan Tuhan. “Kami tidak perlu apa yang alam—atau Pencipta alam—sediakan. Kami akan menciptakan realitas kami sendiri. Kami akan membangun jalur kami sendiri menuju surga.”
Inilah awal dari semua kekacauan. Ketika manusia berkata, “Aku akan pegang kendali. Aku akan bangun hidupku dengan kekuatanku sendiri.”
Saudara tentunya dibalik apa yang dilakukan manusia dengan membuat batu bata, di-bakar lalu di-susun menjadi menara babel, tentunya ada motivasi dibalik semuanya ini, ada pemikiran, ada dorongan di balik semua ini.
Kita lihat dalam bacaan alkitab kita hari ini:
Kita lihat di ayat 4, mereka berseru: “Marilah kita cari nama.”
Ini motivasi pertama. Motivasi yang sangat gamblang: Famous.
Mereka ingin terkenal.
Mereka ingin membangun legacy. “Kita akan buat nama besar, supaya kita dikenang sepanjang masa.”
Mereka ingin identitas yang megah, tetapi tanpa Tuhan.
Mereka ingin mahkota, tetapi tanpa Raja.
Saudara, beberapa tahun lalu di Indonesia ada fenomena Crazy Rich—anak-anak muda sekitar 20-30 tahunan yang tiba-tiba muncul ke permukaan karena memiliki kekayaan yang luar biasa. Dan salah satunya adalah Indra Kenz.
Saya tidak sedang menghakimi orangnya, tetapi perhatikan apa yang pernah ia ucapkan. Suatu ketika dalam siaran live di channel YouTube-nya, ia bercerita bahwa ia tidak bisa tidur. Dan karena tidak bisa tidur, ia iseng-iseng membuka online shop melalui handphone-nya. Lalu ia melihat sebuah mobil sport. Dan dengan santainya ia bilang, “Ya sudah, beli.”
Ia mengatakan betapa kayanya dirinya. Bahwa ketika ia tidak bisa tidur, ia belanja mobil sport.
Dan yang menjadi puncaknya adalah ketika ia menjawab pertanyaan netizen. Ada yang bertanya, “Bang, lo takut nggak sih jatuh miskin?” Dengan penuh keyakinan ia menjawab kurang lebih: “Tuhan pun akan bingung bagaimana membuat saya jatuh miskin.”
Bayangkan saudara. Ia merasa tumpukan batu batanya—tumpukan hartanya, kesuksesannya, pengaruhnya—sudah begitu tinggi, begitu kokoh, begitu rapi mencetak bata demi bata, sampai-sampai ia berkata dalam hatinya, “Tuhan, lihat ini. Mana mungkin Engkau menjangkau saya di sini? Mana mungkin Engkau mengacaukan menara saya?”
Inilah puncak dari motivasi “Cari Nama”. Kita membangun pencitraan, kita membangun portofolio, kita membangun rekening, setinggi mungkin, dengan keyakinan bahwa itu semua adalah jaminan keamanan dan kebanggaan kita. Kita lupa bahwa batu bata setinggi apapun tetaplah buatan manusia—rapuh dan sementara.
Saudara, saya tahu mungkin di antara kita berpikir, “Ah, untung saya bukan Crazy Rich. Saya orang biasa. Saya tidak sombong seperti itu. Saya tidak pamer kekayaan. Saya bukan tipe orang yang haus akan nama besar.”
Kita merasa aman. Tapi tunggu dulu… izinkan saya membawa kita masuk ke motivasi yang kedua. Motivasi yang jauh lebih halus, jauh lebih rohani, dan justru lebih sering menjangkiti orang-orang ‘baik’ seperti kita.
Lihat lagi ayat 4b. Setelah “Cari nama”, mereka berkata: “…supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”
Nah, ini menarik. Jika tipe pertama digerakkan oleh Pride (kesombongan), tipe kedua ini digerakkan oleh Fear (ketakutan). Mereka takut terserak. Mereka takut kehilangan. Mereka takut akan masa depan yang tidak pasti.
Minggu pertama di bulan Maret, Pastor Simon menjelaskan ada seorang sejarawan terkenal, Flavius Josephus, mencatat tradisi orang Yahudi bahwa generasi ini adalah generasi yang trauma. Kakek-nenek mereka selamat dari air bah Nuh. Mereka tumbuh dengan cerita tentang air bah yang mengerikan itu. Mereka hidup dalam bayang-bayang trauma bahwa suatu saat langit bisa terbuka lagi dan menenggelamkan mereka.
Masalahnya, Mereka Ingat air bah tetapi mereka lupa Janji Tuhan.
Bahkan mereka tidak percaya pada janji Tuhan.
Ingat bahwa Tuhan sudah memberikan Pelangi sebagai tanda perjanjian: “Aku takkan mengirim air bah lagi.” Tapi trauma mereka lebih besar dari iman mereka.
Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka menggunakan teknologi. Ayat 3 mengatakan mereka menggunakan aspal (Tar)—untuk melapis menara mereka. Ini membuat menara itu kedap air.
Saudara, ini adalah ironi yang luar biasa. Aspal (Tar) adalah bahan yang sama yang dipakai untuk melapis Bahtera Nuh!
Dulu, Aspal (Tar) dipakai untuk menyelamatkan keluarga Nuh oleh karena anugerah Tuhan.
Sekarang, aspal (tar) dipakai untuk membangun menara yang menantang Tuhan.
NOTE: ““Build a large boat from cypress wood and waterproof it with tar, inside and out. Then construct decks and stalls throughout its interior.” Genesis 6:14 NLT
[3] They began saying to each other, “Let’s make bricks and harden them with fire.” (In this region bricks were used instead of stone, and tar was used for mortar.) Genesis 11:3 NLT
Mereka sedang membangun “Bahtera Statis.” Mereka berkata, “Kami tidak butuh bahtera yang berlayar mengikuti Tuhan. Kami akan bangun benteng yang diam di sini. Kalau air bah datang lagi, kami punya waterproofing sendiri. Kami aman tanpa perlu belas kasihan Tuhan.”
Ini adalah motivasi Insecure. Karena trauma masa lalu dan takut akan masa depan, mereka bekerja keras membangun sistem keamanan versi mereka sendiri. Mereka menumpuk batu bata—bukan untuk kemuliaan, tapi untuk perlindungan diri.
Saudara, ketika saya membaca bagian ini, hati saya merasa ditegur. Karena saya menyadari, selama 20 tahun hidup saya di Jakarta, saya adalah seorang pembangun Menara Babel yang handal.
Saya bekerja di dunia asuransi. Saya ahli dalam Risk Management. Setiap hari saya berpikir, “Bagaimana memitigasi risiko? Bagaimana membuat hidup ini aman, nyaman, dan terkendali?” Saya punya network (ketika saya butuh pertolongan, ada keluarga yang siap membantu, ada teman-teman di gereja dan pendeta, ada teman2 di yayasan, teman2 di kantor), Saya juga punya usaha konsultasi bisnis di beberapa perusahaan teman saya, punya perencanaan keuangan yang matang. Istri saya punya bisnis. Aktif dalam pelayanan, namun secara praktis, dalam keseharian, saya merasa tidak butuh-butuh amat sama Tuhan. Tuhan saya taruh dalam kotak “ibadah Minggu” dan “doa sebelum makan”. Tapi untuk urusan keamanan hidup? Saya lebih percaya pada batu bata yang saya susun rapi.
Lalu Tuhan membawa saya dan keluarga ke Palmerston North, New Zealand. Tempat yang tenang. Sistemnya mapan. Jaminan sosialnya kuat. Secara logika, ini surga risk management. Hidup saya seharusnya makin “kedap air”.
Tapi anehnya, di sinilah Tuhan mulai mengacaukan bahasa saya. Saya mulai merasa asing. Bahasa kenyamanan yang dulu saya pahami—bahasa tentang jabatan, tentang pengaruh, tentang kemapanan—tiba-tiba tidak lagi berarti.
Dan sebagai orang yang bekerja Mental Health, saya melihat paradoks yang mengerikan. Di negeri yang sistemnya menjamin segalanya, angka depresi dan loneliness (kesepian) justru sangat tinggi.
February 2026 Te Hiringa Mahara mengeluarkan laporannya bahwa anak-anak muda NZ yang distress meningkat 2x dalam 5 tahun terakhir. Lalu OEDC Health at a Glance me-release data tahun 2025 NZ masuk kedalam persingkat 8 tertinggi didunia konsumsi obat antidepressants.
Orang-orang tinggal di rumah-rumah yang hangat, tapi jiwa mereka menggigil kedinginan.
Di sinilah saya sadar. Ternyata… batu bata ‘sistem dunia’ yang paling canggih sekalipun, tidak bisa mengisi kehampaan jiwa manusia. Ternyata, waterproofing yang saya bangun selama 20 tahun, tetap bocor juga. Dan kebocoran itu adalah pintu masuk bagi Tuhan untuk berbicara.
Saudara, kita belajar satu hal. Karena trauma masa lalu—mungkin kita pernah gagal, pernah direndahkan, pernah terluka—dan karena khawatir akan masa depan—takut miskin, takut tidak berguna, takut dilupakan—kita sering tanpa sadar menihilkan Tuhan melalui hal-hal yang terlihat positif.
Kita tanpa sadar meniadakan Tuhan, tanpa kita katakan sebenarnya Kita berkata Kita tidak perlu Tuhan.
Kita lebih percaya kepada Pemerintah, Kita lebih percaya kepada system, Kita lebih percaya rencana Dan usaha Kita.
Kita tidak percaya lagi kepada Tuhan.
Mari, coba periksa kedalam diri kita masing-masing:
Pekerjaan kita. Apakah kita bekerja untuk memuliakan Tuhan? Atau jujur saja, kita bekerja keras menyusun batu bata untuk memperkaya diri, sebagai benteng dari rasa takut miskin? Kita kerja lembur bukan karena panggilan, tapi karena parno.
Pendidikan dan belajar. Apakah kita kuliah untuk mengembangkan talenta bagi kemuliaan Tuhan? Atau kita hanya membangun batu bata sebagai tangga sosial, agar ijazah ini menjadi tiket masuk ke zona aman dan tidak diremehkan orang?
Pelayanan di gereja. Ini yang paling halus. Apakah kita melayani sebagai saluran berkat? Atau jujur, kadang kita menyusun batu bata pencitraan rohani. Kita ingin posisi, ingin disebut, ingin dipuji. Pelayanan jadi ajang mencari nama, bukan mencari Tuhan.
Cara diagnosanya gampang saudara. Lihat reaksi kita saat rencana dikacaukan. Saat tiba-tiba kita kena redundant atau PHK datang. Saat nilai ujian jeblok. Saat pelayanan kita dikritik, tidak di hargai. Apa reaksi kita?
Apakah kita panik? Marah pada Tuhan? Atau malah semakin gila bekerja, makin gila mencetak ‘batu bata’ baru, seolah berkata, “Tuhan, jangan ganggu benteng saya!”
Lalu apa solusinya? Bagaimana cara Tuhan menyelamatkan kita dari proyek Babel pribadi kita?
Pertama, Ganti ‘Aspal’ dengan ‘Pelangi’.
Ibrani 13:5-6 berkata: “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah sendiri telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’ Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: ‘Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut.’”
Berhenti membuat hidupmu waterproof. Berhenti membangun sistem keamanan palsu. Keamanan sejati bukan dari aspal buatanmu, tapi dari janji penyertaan-Nya.
Janji Pelangi itu masih berlaku.
Dia tidak akan membiarkan kita tenggelam.
Pegang terus janji Tuhan, Tuhan yang pernah menolongmu, Tuhan yang pernah memeliharamu (ebenhazer), Dia akan terus menjagamu.
Betul hari ini kita masih bergumul, masih ada ketakutan dalam diri kita tetapi percayalah bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik buat saudara dan saya.
Kedua, Cari Nama Tuhan.
Yohanes Pembaptis berkata di Yohanes 3:30: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Ini adalah doa yang paling radikal. Dalam pekerjaan kita, dalam studi kita, dalam pelayanan kita, biarlah nama Tuhan yang naik, dan ego kita yang turun. Bukan “saya hebat”, tapi “Tuhan hebat di dalam saya yang lemah”.
Ketiga, Pahami bahwa “Kacau untuk Terjaga”.
Jangan benci kekacauan rencana. Mungkin hari ini doa kita tidak terjawab, rencana kita berantakan, hidup kita terasa kacau. Mungkin Tuhan sedang membongkar menara Babel kita.
Kekacauan hari ini adalah cara Tuhan ‘membersihkan’ motivasi kita.
Dia mengacaukan sementara, agar kita terjaga selamanya.
Dia membongkar menara kita, karena Dia tidak mau kita hancur bersamanya.
Dia meruntuhkan benteng kita, karena Dia ingin kita berlindung di dalam Dia, bukan di dalam tembok buatan sendiri.
Dan saudara, kita berada di Minggu Sengsara. Minggu di mana kita mengingat perjalanan Yesus menuju kayu salib. Dan coba bayangkan… di kayu salib itu, Yesus juga mengalami ‘kekacauan’ yang paling dahsyat.
Dia yang adalah Tuhan, pemilik alam semesta—Dia kehilangan segalanya. Ia ditelanjangi. Dihina. Ditinggalkan murid-murid-Nya. Bahkan nyawa-Nya sendiri dilepaskan. Dari atas salib, Ia berseru, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” — “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Itulah kekacauan yang paling gelap dalam sejarah manusia. Tapi justru melalui kekacauan itulah—melalui salib yang kelihatannya seperti kegagalan total—Dia sedang membangun keselamatan kita. Dia turun dari ‘menara’ surgawi-Nya, agar kita yang terserak karena dosa, bisa dikumpulkan kembali menjadi anak-anak Allah.
Jadi saudara, kalau hari ini hidupmu terasa kacau…
kalau rencanamu berantakan… kalau menara yang kau bangun sepertinya mulai goyah… ingatlah salib.
Di sana, kekacauan terbesar justru menjadi kemenangan terbesar.
Dan mungkin Tuhan sedang melakukan hal yang sama dalam hidupmu.
Di akhir hidupnya, Raja Salomo—orang yang paling sukses, paling kaya, paling terkenal di zamannya—melakukan audit. Ia melihat semua menara yang ia bangun. Istana, kekayaan, hikmat, pengetahuan, terkenal. Lalu ia menulis di Pengkhotbah 2:11:
“Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tidak ada keuntungan di bawah matahari.“
Jangan tunggu sampai di usia senja untuk menyadari itu semua kesia-siaan.
Jangan tunggu sampai puncak menaramu runtuh menimpa hidupmu. Sadarlah sekarang.
Tuhan mengacaukan rencana kita karena Dia mengasihi kita.
Hari ini, Dia mengundang kita untuk berhenti membangun menara kita sendiri.
Dia mengundang kita untuk turun dari proyek kegilaan itu, dan kembali bersandar pada kasih-Nya yang kekal.
Amin.
Leave a comment